Hallo... Selamat datang kembali di blog ini everyone ! Kali ini akan ada beberapa postingan di blog ini. Isi dari postingan ini bertujuan untuk memenuhi tugas Kampus
Selasa, 21 Januari 2020
Senin, 06 Januari 2020
Universitas Kuningan
Nama : Rudianto
NIM : 20190910133
Kelas : SINFC-2019-04
DHCP
DHCP merupakan singkatan dari Dinamyc Host
Configuration Protocol adalah sebuah layanan yang secara otomatis memberikan
nomor IP kepada komputer yang memintanya. komputer yang memberikan nomor IP
inilah yang disebut sebagai DHCP server.
Sedangkan komputer yang melakukan request disebut
DHCP Client. Fungsi DHCP Seperti yang sudah diterangkan. Fungsi
DHCP ini adalah dapat memberikan nomor IP secara otomatis kepada
komputer yang melakukan request.
Pengertian DHCP Server
DHCP atau Dynamic
Host Configuration Protocol adalah protokol yang berbasis arsitektur
client/server yang dipakai untuk memudahkan pengalokasian alamat IP dalam satu
jaringan. Sebuah jaringan lokal yang tidak menggunakan DHCP harus
memberikan alamat IP kepada semua komputer secara manual.
Jika DHCP dipasang di jaringan lokal, maka semua
komputer yang tersambung di jaringan akan mendapatkan alamat IP secara otomatis
dari server DHCP. Selain alamat IP, banyak parameter jaringan yang dapat
diberikan oleh DHCP, seperti default gateway dan DNS server.
Dalam jaringan, server merupakan komputer yang
tugasnya melayani setiap komputer atau host yang tergabung dalam satu jaringan.
Nah, mudah saja, DHCP server adalah sebuah komputer yang
menjalani fungsi DHCP sebagaimana yang sudah dikatakan pada
awal artikel ini.
DHCP server inilah
yang nantinya akan memberikan pinjaman IP address kepada komputer host yang
terhubung.DHCP server merupakan komputer yang berfungsi memberi pinjaman IP
address ke host yang ada. Sedangkan host yang mendapat pinjaman IP address dari
DHCP server tersebut biasa disebut DHCP Client. Jadi, dimana ada server pasti
ada client juga.
Cara Kerja DHCP Server Dalam Jaringan
Terdapat 4 tahapan yang dilakukan dalam proses
peminjaman IP address pada DHCP. Berikut adalah uraiannya:
Tahap 1: IP Least Request
Tahap pertama ini merupakan tahap dimana si client
dalam jaringan meminta IP address yang tersedia pada DHCP server. Awalnya saat
pertama client terhubung dalam jaringan, client ini akan mencari dulu apakah
ada DHCP server yang bekerja pada jaringan tersebut. Nah, begitu ditemukan,
client akan meminta IP address pada DHCP server yang ada.
Tahap 2: IP Least Offer
DHCP server mendengar broadcast dari client yang
baru terhubung dalam jaringan tadi. Kemudian DHCP server memberikan penawaran
terhadap client tersebut berupa IP address.
Tahap 3: IP Lease Selection
Setelah diberi penawaran oleh DHCP server, client
yang me-request tadi menyetujui penawaran yang diberikan oleh DHCP server. Lalu
si client memberikan pesan kepada DHCP server yang isinya adalah meminta agar
DHCP server meminjamkan salah satu IP address yang tersedia dalam DHCP-pool
yang dimilikinya (DHCP-pool merupakan range IP address yang bisa digunakan oleh
host yang terhubung dengannya).
Tahap 4: IP Least Acknowledge
Pada tahap terakhir ini, DHCP server akan merespon
pesan dari client dengan mengirimkan paket acknowledget yang berupa IP address
dan informasi lainnya yang dibutuhkan. Setelah memberikan IP kepada client,
DHCP server akan memperbaharui database yang mereka miliki.
Sedangkan client akan melakukan inisialisasi dengan
mengikat (binding) nomor IP address yang diberikan tadi dan client sudah bisa
beroperasi pada jaringan tersebut. Untuk lebih mudah memahaminya, pada
saat komputer client dihubungkan ke jaringan, komputer tersebut akan me-request
IP ke DHCP server.
DHCP server menjawab
dengan memberikan informasi terkait IP address (termasuk subnetmask, gateway,
dns dan lainnya) ke komputer client.Setelah meminjamkan IP, DHCP server akan
mencoret IP tersebut dalam daftar pool yang dia miliki. Dan menandakan bahwa IP
tersebut sudah dipinjamkan ke salah satu client.
Namun jika dalam daftar IP pool sudah tidak ada lagi
nomor IP yang tersedia, maka si client tidak akan mendapatkan nomor IP dari
DHCP server, dengan demikian si client tidak akan pernah bisa terhubung ke
jaringan tersebut.
Biasanya peminjaman IP address ini memiliki jangka
waktu tertentu, sesuai dengan yang disetting oleh sang Administrator jaringan.
Nah, setelah periode waktu tertentu, pemakaian IP address pada client
dinyatakan telah selesai.
Kemudian, jika si client tidak melakukan request
ulang, maka maka nomor IP address tersebut akan dikembalikan kepada DHCP
server yang meminjamkan. DHCP server dapat meminjamkan IP tersebut
kepada client lain yang
Universitas Kuningan
Nama : Rudianto
NIM : 20190910133
Kelas : SINFC-2019-04
DNS
Apa itu DNS server?
Singkatnya, DNS adalah sebuah sistem yang mengubah URL website ke dalam bentuk
IP Address. Tanpa DNS, Anda harus mengetikkan IP Address secara lengkap ketika
ingin mengunjungi sebuah website.
Jika Anda penasaran
penjelasan lebih lengkapnya, jangan beranjak dari artikel ini ya. Sebab di
sini, kami akan jelaskan lengkap apa itu DNS dan fungsinya, bagian-bagian dari
DNS, cara kerja DNS, dan cara melakukan setting DNS domain.
Apa Itu DNS?
Domain Name Server atau
DNS adalah sebuah sistem yang menghubungkan Uniform Resource Locator (URL)
dengan Internet Protocol Address (IP Address).
Normalnya, untuk
mengakses internet, Anda perlu mengetikkan IP Address sebuah website. Cara ini
cukup merepotkan. Sebab, ini artinya, Anda perlu punya daftar lengkap IP
Address website yang dikunjungi dan memasukkannya secara manual.
DNS adalah sistem yang
meringkas pekerjaan ini untuk Anda. Kini, Anda tinggal mengingat nama domain
dan memasukkannya dalam address bar. DNS kemudian akan
menerjemahkan domain tersebut ke dalam IP Address yang komputer pahami.
Misalkan, Anda ingin
mengakses Google. Alih-alih menulis 172.217.0.142 ke dalam address bar,
Anda tinggal memasukkan alamat Google.com.
Fungsi DNS
Dari penjelasan apa itu
DNS, Anda pasti sudah bisa mengira-ngira bagaimana sebetulnya DNS berfungsi.
Namun, supaya lebih jelas, berikut kami jabarkan tiga fungsi DNS:
- Meminta informasi IP Address sebuah
website berdasarkan nama domain;
- Meminta informasi URL sebuah
website berdasarkan IP Address yang dimasukkan;
- Mencari server yang tepat untuk
mengirimkan email.
Cukup simpel, bukan?
Namun, di balik inovasi simpel inilah, Anda bisa berselancar internet dengan
mudah dan menyenangkan.
Setelah membahas garis
besar fungsi DNS, di bagian selanjutnya saya akan menjelaskan bagaimana cara
kerja DNS server.
Bagian-Bagian DNS
Prinsip dasar cara
kerja DNS adalah dengan cara mencocokkan nama komponen URL dengan komponen IP
Address. Setiap URL dan IP Address memiliki bagian-bagian yang saling
menjelaskan satu dengan yang lain.
Jika Anda sulit
membayangkan teknisnya, anggap saja ini seperti kegiatan mencari buku di
perpustakaan. Ketika Anda mencari buku di perpustakaan, biasanya Anda akan
diberi kode yang menjelaskan letak buku tersebut.
Kode buku perpustakaan
tersebut dinamai Dewey Decimal System (DDS). Biasanya ia terdiri atas kode
topik buku, kode nama belakang penulis, dan kode tahun buku diterbitkan.
Kira-kira prinsip yang
sama diterapkan dalam DNS. Untuk memahaminya lebih dalam, Anda perlu mengetahui
bagian-bagian URL yang tersusun dalam hierarki DNS. Sama seperti kode buku
perpustakaan, setiap bagiannya menjelaskan bagian domain.
Satu perbedaan kentara
ialah kode perpustakaan mulai dari depan. Di sisi lain, kode yang berlaku pada
DNS diurutkan dari belakang. Maka dari itu, kita akan runut bagian-bagian DNS
ini dari belakang. Berikut penjelasan lengkapnya:
- Root-Level Domain merupakan
bagian tertinggi dari hirarki DNS. Biasanya ia berwujud tanda titik (.) di
bagian paling belakang sebuah URL.
- Top-Level Domain adalah
ekstensi yang berada di bagian depan root-level domain. Terdapat dua jenis
TLD yang umumnya dipakai. Keduanya, yaitu Generic Top-Level Domain (GTLD)
dan Country Code Top-Level Domain (CCLTD).
GTLD biasanya
menjelaskan sifat institusi dari pemilik web. Katakanlah, website untuk tujuan
komersial biasanya memiliki ekstensi .COM. Lalu, .EDU untuk institusi
pendidikan dan .GOV untuk lembaga pemerintahan.
Di sisi lain, CCLTD
merupakan ekstensi yang menjelaskan asal negara dari pemilik situs. Misalnya,
akhiran .ID untuk website Indonesia, .AU untuk Australia, .UK untuk Inggris,
dan sebagainya.
- Second-Level Domain ialah
nama lain untuk domain itu sendiri. Ia sering digunakan sebagai identitas
institusi atau branding. Dalam kasus URL en.wikipedia.org, yang dimaksud
SLD adalah wikipedia.
- Third-Level Domain atau
subdomain merupakan bagian dari domain utama yang berdiri sendiri. Apabila
domain diibaratkan sebagai rumah, subdomain adalah salah satu ruang
khusus di rumah itu sendiri.
- Hostname atau
bisa disebut juga dengan scheme. Ini merupakan bagian yang mengawali
sebuah URL. Bagian ini menunjukkan sebuah fungsi dari sebuah website atau
halamannya. Contoh paling banyak digunakan, yaitu HTTPS atau Hypertext
Transfer Protocol Secure.
Cara Kerja DNS
DNS bekerja dalam
tahapan-tahapan. Dimulai proses meminta informasi atau DNS query. Kemudian
dilanjutkan dengan tahapan-tahapan lain seperti DNS recursion, root nameserver,
TLD nameserver, hingga authoritative nameserver.
Tanpa perlu basa-basi
lagi, berikut adalah penjelasan soal cara kerja DNS. Semuanya diurutkan tahap
per tahap.
DNS Query
DNS Query merupakan
istilah teknis untuk meminta informasi soal IP Address. Tahapan ini dimulai
ketika Anda mengetikkan URL ke address bar.
DNS server kemudian
mencari informasi di filehosts. Jika informasi yang dicari tidak ditemukan,
server akan berusaha mencari kepingan informasi atau rekam informasi yang
pernah tercatat di sistem (cache).
Dalam tahapan awal ini
sendiri, terdapat tiga jenis DNS Query. Ketiganya adalah recursive
query, iterative query, dan non-recursive query. Di bawah
ini, Anda bisa temukan pengertiannya:
Recursive query
User memberikan
hostname yang mana kemudian DNS Resolver harus berikan jawaban. Ada dua
kemungkinan jawaban yang diberikan. Pertama, DNS akan menyediakan informasi
relevan setelah mencari di Root Server ataupun Authoritative Name Server.
Kedua, browser akan menampilkan pesan error karena informasi tak bisa
ditemukan.
Iterative query
User memasukkan
hostname. DNS resolver akan mencari cache yang relevan di memori. Jika tidak
berhasil, DNS resolver akan mencari informasi di Root Server dan Authoritative
Name Server yang paling dekat dan relevan dengan DNS zone.
Non-recursive query
Ini merupakan proses
pencarian informasi yang tercepat. Tipe ini tidak memerlukan pencarian di Root
Server atau Authoritative Name Server karena data yang dicari tersimpan dalam
cache.
DNS Recursor / DNS
Recursive Resolver
DNS recursor merupakan
tahapan pertama pencarian informasi. Ketika user memasukkan URL dan tidak
menemukan hasil yang valid di cache, sistem akan mencari informasi dalam cache
penyedia internet atau internet service provider (ISP).
Root Name Server
Katakanlah informasi
yang Anda cari tak bisa ditemukan di ISP. Maka kemudian, sistem akan mencari
informasi yang Anda butuhkan ke root name server.
Root name server
merupakan semacam database yang menjawab pertanyaan soal nama domain dan IP
Address. Server ini tidak memiliki jawaban tepat untuk informasi yang dicari.
Akan tetapi, server ini
bisa meneruskan permintaan informasi ke pihak yang lebih mengetahui. Di dunia
ini, terdapat 13 root server yang bekerja. Root server tersebut diurutkan
secara alfabetis dari A sampai M.
Root server semacam ini
dikelola organisasi seperti Internet Systems Consortium, Verisign, ICANN, the
University of Maryland, and the U.S. Army Research Lab.
TLD Name Server
Dari root name server,
sistem akan membaca jenis informasi yang dicari dari top-level domain. Setiap
TLD seperti .COM, .ORG, .EDU, .ID, .AU, dan sebagainya memiliki server yang
spesifik.
Dengan membaca
informasi ini, sistem bisa meneruskan pencarian informasi ke server yang
benar-benar memiliki data yang dicari.
Authoritative Name
Server
Setelah menemukan klu
di mana server yang diinginkan, sampailah kita pada authoritative name server.
Jenis server satu ini memiliki semua informasi lengkap soal situs web yang
dituju.
Ketika informasi yang
diminta sesuai dengan hasilnya, maka browser akan menampilkan situs web atau
halaman yang Anda minta di awal. Tentu saja hasil pencarian ini memiliki masa
waktu tertentu.
Proses pencarian ini
akan diulang untuk memastikan informasi yang ditampilkan tetap up-to-date.
Namun, tentu saja, beberapa informasi ini disimpan dalam bentuk cache di device
untuk berjaga-jaga agar proses query berjalan cepat.
Macam-Macam DNS
Informasi yang diminta
user dalam sistem DNS disebut dengan DNS record. Ada beberapa jenis informasi
yang bisa diminta dalam sistem DNS. Berikut adalah 10 DNS record yang paling
sering dijumpai:
- A Record atau
Address record ─ menyimpan informasi soal hostname, time
to live (TTL), dan IPv4 Address.
- AAA Record ─ menyimpan
informasi hostname dan hubungannya dengan IPv6 address.
- MX Record ─ merekam
server SMTP yang khusus digunakan untuk saling berkirim email di suatu
domain.
- CNAME Record ─ digunakan
untuk me-redirect domain atau subdomain ke sebuah IP Address.
Lewat fungsi satu ini, Anda tak perlu memperbarui DNS record.
- NS Record ─ merujuk
subdomain pada authoritative name server yang diinginkan. Record ini
berguna jika subdomain Anda di hosting berbeda dengan domain.
- PTR Record ─ memberikan
izin pada DNS resolver untuk menyediakan informasi soal IP Address dan
menampilkan hostname (reverse DNS lookup).
- CERT Record ─ menyimpan
sertifikat enkripsi atau sertifikat keamanan.
- SRV Record ─ menyimpan
informasi terkait lokasi komunikasi, semacam Priority, Name, Weight, Port,
Points, dan TTL
- TXT Record ─ membawa
dan menyalurkan data yang hanya bisa dibaca oleh mesin.
- SOA Record ─ bagian
yang muncul di awal dokumen DNS zone. Bagian yang sama juga merujuk pada
Authoritative Name Server serta informasi lengkap sebuah domain.
Bagaimana Cara Setting
DNS Domain?
Untuk dapat melakukan
setting DNS Domain, Anda perlu membuka fitur Zone Editor di
cPanel. Berikut adalah langkah-langkah yang perlu Anda lakukan untuk melakukan
setting DNS:
- Login ke cPanel.
- Cari bagian Domains.
- Klik Zone Editor.
- Pilih domain dan klik Manage.
- Tambahkan record sesuai yang dibutuhkan
(A, AAAA, CAA, CNAME, MX, SRV, atau TXT)
- Simpan record.
- Tunggu waktu propagasi hingga 1×24
jam.
- Setting DNS selesai dilakukan.
Universitas Kuningan
Nama : Rudianto
NIM : 20190910133
Kelas : SINFC-2019-04
Routing
(Statis Dan Dinamis)
Routing Static
Routing static itu
merupakan jenis dari routing yang dilakukan oleh admin jaringan untuk
mengkonfigurasi informasi tentang jaringan yang dituju dan semua itu dilakukan
secara manual.
Routing static ini
memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
- Jalur
spesifik ditentukan oleh admin jaringan
- Pengisian
tabel routing dilakukan secara manual oleh admin jaringan
- Routing static ini biasanya digunakan untuk jaringan berskala kecil
Dibalik semua itu,
routing static juga memiliki beberapa kelebihan dan kelemahan, diantaranya :
Kelebihan menggunakan
Routing static
- Meringankan
kinerja processor router
- Tidak ada bandwidth yang diguanakn untuk pertukaran informasi dari tabel isi routing pada saat pengiriman paket
- Routing
statis lebih aman dibandingkan routing dinamis
- Routing
Statis kebal dari segala usaha hacker untuk men-spoof dengan tujuan
membajak traffic
Kelemahan menggunakan
routing static
- Administrator
jaringan harus mengetahui semua informasi dari masing-masing router yang
digunakan
- Hanya
dapat digunakan untuk jaringan berskala kecil
- Admisnistrasinya
cukup rumit dibanding routing dinamis, terlebih jika banyak router yang
harus dikonfigurasi secara manual
- Rentan
terhadap kesalahan saat entri data routing statis yang dilakukan secara
manual
Contoh Routing Static
1. Windows
route add network mask netmask gateway
seumpama kita berada di
posisi R1 masukan perintah route add adalah untuk menambahkan
routing tabel baru secara manual. Lalu masukkan network ip
dan netmask tujuan yang ingin di routing yaitu 192.168.20.0
dan netmasknya adalah 255.255.255.0 dan setelah itu masukkan gateway atau
jalur dari routing yaitu 192.168.10.2
route add 192.168.20.0
mask 255.255.255.0 192.168.10.2
2. Linux
Format routing static :
ip route add network/netmask via gateway
Contoh routing static :
ip route add
192.168.20.0/24 via 192.168.10.2
3. Cisco
Format routing static :
ip route network
netmask gateway
Contoh routing static :
ip route 192.168.20.0
255.255.255.0 192.168.10.2
Routing Dynamic
Routing Dynamic Route
atau yang biasa dusebut dengan Dynamic Route adalah sebuah router yang membuat
tabel routing secara otomatis. Apa itu tabel routing? tabel routing merupakan
tabel yang memuat tentang seluruh IP address dari interfaces router dan juga memuat
tentang informasi routingnya. Dengan menggunakan lalu lintas jaringan dan juga
saling berhubungan antara router lainnya. Dalam kata lain Dynamic route besifat
dinamik dan mampu melakukan update route dengan cara medistribusikan informasi
mengenai jalur terbaik ke router lain.
Dynamic route ini
juga memiliki ciri-ciri, diantaranya; Router berbagi informasi routing secara
otomatis, Jumlah gateway sangat banyak, Routing tabel dibuat secara dinamik,
serta Membutuhkan protokol routing (contohnya RIP ,OSPF, dll).
Dynamic route juga bisa
membuat keputusan pada route yang mana sebuah paket mencapai tujuan. Umumnya ia
mengirimkan paket ke route yang paling efisien; salah satu yang menghasilkan
jumlah hop lebih sedikit. Bagaimanapun, jika route macet, dynamic route dapat
mengirimkan paket ke route alternatif.
Disini juga terdapat
jenis jenis dari protokol routing dinamis, yaitu :
- RIP (Routing Information Protocol)
: adalah sebuah protokol routing dinamis yang digunakan dalam jaringan LAN
(Local Area Network) dan WAN (Wide Area Network).
- IGRP (Interior Gateway Routing
Protocol) : adalah protocol distance vector yang diciptakan oleh
perusahaan Cisco untuk mengatasi kekurangan RIP.
- EIGRP (Enhanced Interior Gateway
Routing Protocol) : adalah routing protocol yang hanya di adopsi oleh
router cisco atau sering disebut sebagai proprietary protocol pada CISCO.
- OSPF (Open Shortest Path First) :
merupakan sebuah routing protokol berjenis IGRP (InteriorGateway Routing
Protocol) yang hanya dapat bekerja dalam jaringan internal suatu
ogranisasi atau perusahaan. Jaringan internal maksudnya adalah jaringan
masih memiliki hak untuk menggunakan, mengatur, dan memodifikasinya.
- BGP (Border Gateway Protocol) :
merupakan salah satu jenis routing protokol yang digunakan untuk koneksi
antar Autonomous System (AS), dan salah satu jenis routing protokol yang
banyak digunakan di ISP besar (Telkomsel) ataupun perbankan. BGP termasuk
dalam kategori routing protokol jenis Exterior Gateway Protokol (EGP).
Adapun keuntungan
dynamic route adalah sebagai berikut :
- Cocok untuk area besar/luas
- Hanya mengenalkan alamat yang terhubung langsung dengan routernya
- Bila terjadi penambahan suatu network baru tidak perlu semua router dikonfigurasi, hanya router yang berkaitan saja
- Router secara otomatis berbagi informasi
- Routing
table dibuat secara dinamik
- Tidak
perlu mengetahui semua alamat network yang ada
- Administrator
tidak ikut campur tangan
Sedangkan kelemahan
dynamic route adalah sebagai berikut :
- Beban
kerja router menjadi lebih berat karena selalu memperbarui IP Table pada
setiap waktu tertentu
- Kecepatan
pengenalan dan kelengkapan IP Table terbilang lama karena router
membroadcast ke semua router lainnya sampai ada yang cocok sehingga
setelah konfigurasi harus menunggu beberapa saat agar setiap router
mendapat semua alamat IP yang ada.
Contoh Dynamic Routing
1. RIP
(Routing Information Protocol)
Format :
router rip
network network
Contoh :
router rip
network 192.168.20.0
2. EIGRP
(Enhanced Interior Gateway Routing Protocol)
Format :
router eigrp id
network network
Contoh :
router eigrp 10
network 192.168.20.0
3. OSPF
(Open Shortest Path First)
Format :
router ospf id
network network
wildcard area id_area
Contoh :
router ospf 10
network 192.168.20.0
0.0.0.255 area 0
4. BGP
(Border Gateway Protocol)
Untuk penjelasan lebih
lengkap klik di sini
Format :
router bgp id
neighbor ip_tujuan remote-as id_tujuan
network network_tujuan mask netmask
Contoh :
router bgp 10
neighbor 192.168.10.2
remote-as 20
network 192.168.10.0
mask 255.255.255.0
Universitas Kuningan
Subnetmask diperlukan oleh TCP/IP untuk menentukan apakah suatu jaringan yang dimaksud adalah termasuk jaringan lokal atau non lokal.
Network ID dan host ID di dalam IP address dibedakan oleh penggunaan subnet mask. Masing-masing subnet mask merupakan pola nomor 32-bit yang merupakan bit groups dari semua (1) yang menunjukkan network ID dan semua nol (0) menunjukkan host ID dari porsi IP address.
Penulisan IP address umumnya adalah dengan 192.168.1.2. Namun adakalanya ditulis dengan 192.168.1.2/24 artinya bahwa IP address 192.168.1.2 dengan subnet mask 255.255.255.0. Lho kok bisa seperti itu? Ya, /24 diambil dari penghitungan bahwa 24 bit subnet mask diselubung dengan binari 1. Atau dengan kata lain, subnet masknya adalah: 11111111.11111111.11111111.00000000 (255.255.255.0). Konsep ini yang disebut dengan CIDR (Classless Inter-Domain Routing) yang diperkenalkan pertama kali tahun 1992 oleh IEFT.
Nama : Rudianto
NIM : 20190910133
Kelas : SINFC-2019-04
Ip
Subnetting Concept
Subnetting adalah
teknik memecah suatu jaringan besar menjadi jaringan yang lebih kecil dengan
cara mengorbankan bit Host ID pada subnet mask untuk dijadikan Network ID baru.
Subnetting merupakan teknik memecah network menjadi beberapa subnetwork yang lebih
kecil. Subnetting hanya dapat dilakukan pada IP addres kelas A, IP Address
kelas B dan IP Address kelas C. Dengan subnetting akan menciptakan beberapa
network tambahan, tetapi mengurangi jumlah maksimum host yang ada dalam tiap
network tersebut.
Alasan Melakukan
Subnetting
Mengalokasikan IP
address yang terbatas supaya lebih efisien. Jika internet terbatas oleh
alamat-alamat di kelas A, B, dan C, tiap network akan memliki 254, 65.000, atau
16 juta IP address untuk host devicenya. Walaupun terdapat banyak network
dengan jumlah host lebih dari 254, namun hanya sedikit network (kalau tidak mau
dibilang ada) yang memiliki host sebanyak 65.000 atau 16 juta. Dan network yang
memiliki lebih dari 254 device akan membutuhkan alokasi kelas B dan mungkin
akan menghamburkan percuma sekitar 10 ribuan IP address.
Alasan kedua adalah,
walaupun sebuah organisasi memiliki ribuan host device, mengoperasikan semua
device tersebut di dalam network ID yang sama akan memperlambat network. Cara
TCP/IP bekerja mengatur agar semua komputer dengan network ID yang sama harus
berada di physical network yang sama juga. Physical network memiliki domain
broadcast yang sama, yang berarti sebuah medium network harus membawa semua
traffic untuk network. Karena alasan kinerja, network biasanya disegmentasikan ke
dalam domain broadcast yang lebih kecil – bahkan lebih kecil – dari Class C
address.
Tujuan Subnetting
Tujuan dari subnetting
adalah sebagai berikut:
- Untuk mengefisienkan pengalamatan
(misal untuk jaringan yang hanya mempunyai 10 host, kalau kita menggunakan
kelas C saja terdapat 254 – 10 =244 alamat yang tidak terpakai).
- Membagi satu kelas network atas
sejumlah subnetwork dengan arti membagi suatu kelas jaringan menjadi
bagian-bagian yang lebih kecil.
- Menempatkan suatu host, apakah
berada dalam satu jaringan atau tidak. Menempatkan suatu host, apakah
berada dalam satu jaringan atau tidak.
- Untuk mengatasi masalah perbedaaan
hardware dengan topologi fisik jaringan.
- Untuk mengefisienkan alokasi IP
Address dalam sebuah jaringan supaya bisa memaksimalkan penggunaan IP
Address.
- Mengatasi masalah perbedaan
hardware dan media fisik yang digunakan daam suatu network, karena Router
IP hanya dapat mengintegrasikan berbagai network dengan media fisik yang
berbeda jika setiap network memiliki address network yang unik.
- Meningkatkan security dan
mengurangi terjadinya kongesti akibat terlalu banyaknya host dalam suatu
network.
Fungsi Subnetting
Fungsi subnetting
antara lain sbb:
- Mengurangi lalu-lintas jaringan,
sehingga data yang lewat di perusahaan tidak akan bertabrakan (collision)
atau macet.
- Teroptimasinya unjuk kerja
jaringan.
- Pengelolaan yang disederhanakan.
- Membantu pengembangan jaringan ke
arah jarak geografis yang menjauh,
Proses Subnetting
Untuk melakukan proses
subnetting kita akan melakukan beberapa proses antara lain :
- Menentukan jumlah subnet yang
dihasilkan oleh subnet mask.
- Menentukan jumlah host per subnet.
- Menentukan subnet yang valid.
- Menentukan alamat broadcast untuk
tiap subnet.
- Menentukan host – host yang valid
untuk tiap subnet.
Mengenal Teknik
Subnetting
Misalkan disebuah
perusahaan terdapat 200 komputer (host). Tanpa menggunakan subnetting maka
semua komputer (host) tersebut dapat kita hubungkan kedalam sebuah jaringan
tunggal dengan perincian sebagai berikut:
Misal kita gunakan IP
Address Private kelas C dengan subnet mask defaultnya yaitu 255.255.255.0
sehingga perinciannya sebagai berikut:
Network Perusahaan
Alamat Jaringan : 192.168.1.0
Host Pertama : 192.168.1.1
Host Terakhir : 192.168.1.254
Broadcast Address : 192.168.1.255
Alamat Jaringan : 192.168.1.0
Host Pertama : 192.168.1.1
Host Terakhir : 192.168.1.254
Broadcast Address : 192.168.1.255
Misalkan diperusahaan
tersebut terdapat 2 divisi yang berbeda sehingga kita akan memecah network
tersebut menjadi 2 buah subnetwork, maka dengan teknik subnetting kita akan
menggunakan subnet mask 255.255.255.128 (nilai subnet mask ini berbeda-beda
tergantung berapa subnetwork yang akan kita buat) sehingga akan menghasilkan 2
buah blok subnet, dengan perincian sebagai berikut:
Network Divisi A
Alamat Jaringan / Subnet A : 192.168.1.0
Host Pertama : 192.168.1.1
Host Terakhir : 192.168.1.126
Broadcast Address : 192.168.1.127
Network Divisi B
Alamat Jaringan / Subnet B : 192.168.1.128
Host Pertama : 192.168.1.129
Host Terakhir : 192.168.1.254
Broadcast Address : 192.168.1.255
Dengan demikian dengan teknik subnetting akan terdapat 2 buah subnetwork yang masing-masing network maksimal terdiri dari 125 host (komputer). Masing-masing komputer dari subnetwork yang berbeda tidak akan bisa saling berkomunikasi sehingga meningkatkan security dan mengurangi terjadinya kongesti. Apabila dikehendaki agar beberapa komputer dari network yang berbeda tersebut dapat saling berkomunikasi maka kita harus menggunakan Router.
Alamat Jaringan / Subnet A : 192.168.1.0
Host Pertama : 192.168.1.1
Host Terakhir : 192.168.1.126
Broadcast Address : 192.168.1.127
Network Divisi B
Alamat Jaringan / Subnet B : 192.168.1.128
Host Pertama : 192.168.1.129
Host Terakhir : 192.168.1.254
Broadcast Address : 192.168.1.255
Dengan demikian dengan teknik subnetting akan terdapat 2 buah subnetwork yang masing-masing network maksimal terdiri dari 125 host (komputer). Masing-masing komputer dari subnetwork yang berbeda tidak akan bisa saling berkomunikasi sehingga meningkatkan security dan mengurangi terjadinya kongesti. Apabila dikehendaki agar beberapa komputer dari network yang berbeda tersebut dapat saling berkomunikasi maka kita harus menggunakan Router.
Subnet Mask
Subnetmask digunakan
untuk membaca bagaimana kita membagi jalan dan gang, atau membagi network dan
hostnya. Address mana saja yang berfungsi sebagai SUBNET, mana yang HOST dan
mana yang BROADCAST. Semua itu bisa kita ketahui dari SUBNET MASKnya. SUBNET MASK
DEFAULT ini untuk masing-masing Class IP Address adalah sbb:
Class
|
Oktet Pertama
|
Subnet Mask Default
|
Private Address
|
A
|
1 – 127
|
255.0.0.0
|
10.0.0.0 – 10.255.255.255
|
B
|
128 – 191
|
255.255.0.0
|
172.16.0.0 – 172.31.255.255
|
C
|
192 – 223
|
255.255.225.0
|
192.168.0.0 – 192.168.255.255
|
Subnetmask diperlukan oleh TCP/IP untuk menentukan apakah suatu jaringan yang dimaksud adalah termasuk jaringan lokal atau non lokal.
Network ID dan host ID di dalam IP address dibedakan oleh penggunaan subnet mask. Masing-masing subnet mask merupakan pola nomor 32-bit yang merupakan bit groups dari semua (1) yang menunjukkan network ID dan semua nol (0) menunjukkan host ID dari porsi IP address.
Kelas IP Address
|
BIT SUBNET (Default)
|
SUBNETMASK (Default)
|
A
|
11111111 00000000 00000000 00000000
|
255.0.0.0
|
B
|
11111111 11111111 00000000 00000000
|
255.255.0.0
|
C
|
11111111 11111111 11111111 00000000
|
255.255.255.0
|
Jangan bingung
membedakan antara subnet mask dengan IP address. Sebuah subnet mask tidak
mewakili sebuah device atau network di internet. Subnet mask digunakan untuk
menandakan bagian mana dari IP address yang digunakan untuk menentukan network
ID. Anda dapat langsung dengan mudah mengenali subnet mask, karena octet
pertama pasti 255, oleh karena itu 255 bukanlah octet yang valid untuk IP
address class.
Terdapat aturan-aturan dalam membuat Subnet Mask:
Angka minimal untuk network ID adalah 8 bit. Sehingga, oktet pertama dari subnet pasti 255.
Angka minimal untuk network ID adalah 8 bit. Sehingga, oktet pertama dari subnet pasti 255.
- Angka maksimal untuk network ID
adalah 30 bit. Anda harus menyisakan sedikitnya 2 bit untuk host ID, untuk
mengizinkan paling tidak 2 host. Jika anda menggunakan seluruh 32 bit
untuk network ID, maka tidak akan tersisa untuk host ID. Ya, pastilah
nggak akan bisa. Menyisakan 1 bit juga tidak akan bisa. Hal itu disebabkan
sebuah host ID yang semuanya berisi angka 1 digunakan untuk broadcast
address dan semua 0 digunakan untuk mengacu kepada network itu sendiri.
Jadi, jika anda menggunakan 31 bit untuk network ID dan menyisakan hanya 1
bit untuk host ID, (host ID 1 digunakan untuk broadcast address dan host
ID 0 adalah network itu sendiri) maka tidak akan ada ruang untuk host
sebenarnya. Makanya maximum network ID adalah 30 bit.
- Karena network ID selalu disusun
oleh deretan angka-angka 1, hanya 9 nilai saja yang mungkin digunakan di
tiap octet subnet mask (termasuk 0). Tabel berikut ini adalah kemungkinan
nilai-nilai yang berasal dari 8 bit.
BINARY OCNET
|
DECIMAL
|
00000000
|
0
|
10000000
|
128
|
11000000
|
192
|
11100000
|
224
|
11110000
|
240
|
11111000
|
248
|
11111100
|
252
|
11111110
|
254
|
11111111
|
255
|
Penghitungan Subnetting
Penghitungan subnetting
bisa dilakukan dengan dua cara, cara binary yang relatif lambat dan cara khusus
yang lebih cepat. Pada hakekatnya semua pertanyaan tentang subnetting akan
berkisar di empat masalah yaitu:
- Jumlah Subnet.
- Jumlah Host per Subnet.
- Blok Subnet.
- Alamat Host- Broadcast.
Penulisan IP address umumnya adalah dengan 192.168.1.2. Namun adakalanya ditulis dengan 192.168.1.2/24 artinya bahwa IP address 192.168.1.2 dengan subnet mask 255.255.255.0. Lho kok bisa seperti itu? Ya, /24 diambil dari penghitungan bahwa 24 bit subnet mask diselubung dengan binari 1. Atau dengan kata lain, subnet masknya adalah: 11111111.11111111.11111111.00000000 (255.255.255.0). Konsep ini yang disebut dengan CIDR (Classless Inter-Domain Routing) yang diperkenalkan pertama kali tahun 1992 oleh IEFT.
Langganan:
Postingan (Atom)




