Nama : Rudianto
NIM : 20190910133
Kelas : SINFC-2019-04
DNS
Apa itu DNS server?
Singkatnya, DNS adalah sebuah sistem yang mengubah URL website ke dalam bentuk
IP Address. Tanpa DNS, Anda harus mengetikkan IP Address secara lengkap ketika
ingin mengunjungi sebuah website.
Jika Anda penasaran
penjelasan lebih lengkapnya, jangan beranjak dari artikel ini ya. Sebab di
sini, kami akan jelaskan lengkap apa itu DNS dan fungsinya, bagian-bagian dari
DNS, cara kerja DNS, dan cara melakukan setting DNS domain.
Apa Itu DNS?
Domain Name Server atau
DNS adalah sebuah sistem yang menghubungkan Uniform Resource Locator (URL)
dengan Internet Protocol Address (IP Address).
Normalnya, untuk
mengakses internet, Anda perlu mengetikkan IP Address sebuah website. Cara ini
cukup merepotkan. Sebab, ini artinya, Anda perlu punya daftar lengkap IP
Address website yang dikunjungi dan memasukkannya secara manual.
DNS adalah sistem yang
meringkas pekerjaan ini untuk Anda. Kini, Anda tinggal mengingat nama domain
dan memasukkannya dalam address bar. DNS kemudian akan
menerjemahkan domain tersebut ke dalam IP Address yang komputer pahami.
Misalkan, Anda ingin
mengakses Google. Alih-alih menulis 172.217.0.142 ke dalam address bar,
Anda tinggal memasukkan alamat Google.com.
Fungsi DNS
Dari penjelasan apa itu
DNS, Anda pasti sudah bisa mengira-ngira bagaimana sebetulnya DNS berfungsi.
Namun, supaya lebih jelas, berikut kami jabarkan tiga fungsi DNS:
- Meminta informasi IP Address sebuah
website berdasarkan nama domain;
- Meminta informasi URL sebuah
website berdasarkan IP Address yang dimasukkan;
- Mencari server yang tepat untuk
mengirimkan email.
Cukup simpel, bukan?
Namun, di balik inovasi simpel inilah, Anda bisa berselancar internet dengan
mudah dan menyenangkan.
Setelah membahas garis
besar fungsi DNS, di bagian selanjutnya saya akan menjelaskan bagaimana cara
kerja DNS server.
Bagian-Bagian DNS
Prinsip dasar cara
kerja DNS adalah dengan cara mencocokkan nama komponen URL dengan komponen IP
Address. Setiap URL dan IP Address memiliki bagian-bagian yang saling
menjelaskan satu dengan yang lain.
Jika Anda sulit
membayangkan teknisnya, anggap saja ini seperti kegiatan mencari buku di
perpustakaan. Ketika Anda mencari buku di perpustakaan, biasanya Anda akan
diberi kode yang menjelaskan letak buku tersebut.
Kode buku perpustakaan
tersebut dinamai Dewey Decimal System (DDS). Biasanya ia terdiri atas kode
topik buku, kode nama belakang penulis, dan kode tahun buku diterbitkan.
Kira-kira prinsip yang
sama diterapkan dalam DNS. Untuk memahaminya lebih dalam, Anda perlu mengetahui
bagian-bagian URL yang tersusun dalam hierarki DNS. Sama seperti kode buku
perpustakaan, setiap bagiannya menjelaskan bagian domain.
Satu perbedaan kentara
ialah kode perpustakaan mulai dari depan. Di sisi lain, kode yang berlaku pada
DNS diurutkan dari belakang. Maka dari itu, kita akan runut bagian-bagian DNS
ini dari belakang. Berikut penjelasan lengkapnya:
- Root-Level Domain merupakan
bagian tertinggi dari hirarki DNS. Biasanya ia berwujud tanda titik (.) di
bagian paling belakang sebuah URL.
- Top-Level Domain adalah
ekstensi yang berada di bagian depan root-level domain. Terdapat dua jenis
TLD yang umumnya dipakai. Keduanya, yaitu Generic Top-Level Domain (GTLD)
dan Country Code Top-Level Domain (CCLTD).
GTLD biasanya
menjelaskan sifat institusi dari pemilik web. Katakanlah, website untuk tujuan
komersial biasanya memiliki ekstensi .COM. Lalu, .EDU untuk institusi
pendidikan dan .GOV untuk lembaga pemerintahan.
Di sisi lain, CCLTD
merupakan ekstensi yang menjelaskan asal negara dari pemilik situs. Misalnya,
akhiran .ID untuk website Indonesia, .AU untuk Australia, .UK untuk Inggris,
dan sebagainya.
- Second-Level Domain ialah
nama lain untuk domain itu sendiri. Ia sering digunakan sebagai identitas
institusi atau branding. Dalam kasus URL en.wikipedia.org, yang dimaksud
SLD adalah wikipedia.
- Third-Level Domain atau
subdomain merupakan bagian dari domain utama yang berdiri sendiri. Apabila
domain diibaratkan sebagai rumah, subdomain adalah salah satu ruang
khusus di rumah itu sendiri.
- Hostname atau
bisa disebut juga dengan scheme. Ini merupakan bagian yang mengawali
sebuah URL. Bagian ini menunjukkan sebuah fungsi dari sebuah website atau
halamannya. Contoh paling banyak digunakan, yaitu HTTPS atau Hypertext
Transfer Protocol Secure.
Cara Kerja DNS
DNS bekerja dalam
tahapan-tahapan. Dimulai proses meminta informasi atau DNS query. Kemudian
dilanjutkan dengan tahapan-tahapan lain seperti DNS recursion, root nameserver,
TLD nameserver, hingga authoritative nameserver.
Tanpa perlu basa-basi
lagi, berikut adalah penjelasan soal cara kerja DNS. Semuanya diurutkan tahap
per tahap.
DNS Query
DNS Query merupakan
istilah teknis untuk meminta informasi soal IP Address. Tahapan ini dimulai
ketika Anda mengetikkan URL ke address bar.
DNS server kemudian
mencari informasi di filehosts. Jika informasi yang dicari tidak ditemukan,
server akan berusaha mencari kepingan informasi atau rekam informasi yang
pernah tercatat di sistem (cache).
Dalam tahapan awal ini
sendiri, terdapat tiga jenis DNS Query. Ketiganya adalah recursive
query, iterative query, dan non-recursive query. Di bawah
ini, Anda bisa temukan pengertiannya:
Recursive query
User memberikan
hostname yang mana kemudian DNS Resolver harus berikan jawaban. Ada dua
kemungkinan jawaban yang diberikan. Pertama, DNS akan menyediakan informasi
relevan setelah mencari di Root Server ataupun Authoritative Name Server.
Kedua, browser akan menampilkan pesan error karena informasi tak bisa
ditemukan.
Iterative query
User memasukkan
hostname. DNS resolver akan mencari cache yang relevan di memori. Jika tidak
berhasil, DNS resolver akan mencari informasi di Root Server dan Authoritative
Name Server yang paling dekat dan relevan dengan DNS zone.
Non-recursive query
Ini merupakan proses
pencarian informasi yang tercepat. Tipe ini tidak memerlukan pencarian di Root
Server atau Authoritative Name Server karena data yang dicari tersimpan dalam
cache.
DNS Recursor / DNS
Recursive Resolver
DNS recursor merupakan
tahapan pertama pencarian informasi. Ketika user memasukkan URL dan tidak
menemukan hasil yang valid di cache, sistem akan mencari informasi dalam cache
penyedia internet atau internet service provider (ISP).
Root Name Server
Katakanlah informasi
yang Anda cari tak bisa ditemukan di ISP. Maka kemudian, sistem akan mencari
informasi yang Anda butuhkan ke root name server.
Root name server
merupakan semacam database yang menjawab pertanyaan soal nama domain dan IP
Address. Server ini tidak memiliki jawaban tepat untuk informasi yang dicari.
Akan tetapi, server ini
bisa meneruskan permintaan informasi ke pihak yang lebih mengetahui. Di dunia
ini, terdapat 13 root server yang bekerja. Root server tersebut diurutkan
secara alfabetis dari A sampai M.
Root server semacam ini
dikelola organisasi seperti Internet Systems Consortium, Verisign, ICANN, the
University of Maryland, and the U.S. Army Research Lab.
TLD Name Server
Dari root name server,
sistem akan membaca jenis informasi yang dicari dari top-level domain. Setiap
TLD seperti .COM, .ORG, .EDU, .ID, .AU, dan sebagainya memiliki server yang
spesifik.
Dengan membaca
informasi ini, sistem bisa meneruskan pencarian informasi ke server yang
benar-benar memiliki data yang dicari.
Authoritative Name
Server
Setelah menemukan klu
di mana server yang diinginkan, sampailah kita pada authoritative name server.
Jenis server satu ini memiliki semua informasi lengkap soal situs web yang
dituju.
Ketika informasi yang
diminta sesuai dengan hasilnya, maka browser akan menampilkan situs web atau
halaman yang Anda minta di awal. Tentu saja hasil pencarian ini memiliki masa
waktu tertentu.
Proses pencarian ini
akan diulang untuk memastikan informasi yang ditampilkan tetap up-to-date.
Namun, tentu saja, beberapa informasi ini disimpan dalam bentuk cache di device
untuk berjaga-jaga agar proses query berjalan cepat.
Macam-Macam DNS
Informasi yang diminta
user dalam sistem DNS disebut dengan DNS record. Ada beberapa jenis informasi
yang bisa diminta dalam sistem DNS. Berikut adalah 10 DNS record yang paling
sering dijumpai:
- A Record atau
Address record ─ menyimpan informasi soal hostname, time
to live (TTL), dan IPv4 Address.
- AAA Record ─ menyimpan
informasi hostname dan hubungannya dengan IPv6 address.
- MX Record ─ merekam
server SMTP yang khusus digunakan untuk saling berkirim email di suatu
domain.
- CNAME Record ─ digunakan
untuk me-redirect domain atau subdomain ke sebuah IP Address.
Lewat fungsi satu ini, Anda tak perlu memperbarui DNS record.
- NS Record ─ merujuk
subdomain pada authoritative name server yang diinginkan. Record ini
berguna jika subdomain Anda di hosting berbeda dengan domain.
- PTR Record ─ memberikan
izin pada DNS resolver untuk menyediakan informasi soal IP Address dan
menampilkan hostname (reverse DNS lookup).
- CERT Record ─ menyimpan
sertifikat enkripsi atau sertifikat keamanan.
- SRV Record ─ menyimpan
informasi terkait lokasi komunikasi, semacam Priority, Name, Weight, Port,
Points, dan TTL
- TXT Record ─ membawa
dan menyalurkan data yang hanya bisa dibaca oleh mesin.
- SOA Record ─ bagian
yang muncul di awal dokumen DNS zone. Bagian yang sama juga merujuk pada
Authoritative Name Server serta informasi lengkap sebuah domain.
Bagaimana Cara Setting
DNS Domain?
Untuk dapat melakukan
setting DNS Domain, Anda perlu membuka fitur Zone Editor di
cPanel. Berikut adalah langkah-langkah yang perlu Anda lakukan untuk melakukan
setting DNS:
- Login ke cPanel.
- Cari bagian Domains.
- Klik Zone Editor.
- Pilih domain dan klik Manage.
- Tambahkan record sesuai yang dibutuhkan
(A, AAAA, CAA, CNAME, MX, SRV, atau TXT)
- Simpan record.
- Tunggu waktu propagasi hingga 1×24
jam.
- Setting DNS selesai dilakukan.


